Animal Testing, How Bad Could It Be?
- Adelaide Wreta Gina
- May 26, 2022
- 3 min read
Netizoo pernah, gak, sih, melihat skincare atau makeup brand yang mengklaim produknya cruelty-free? Klaim ini digunakan suatu brand ketika produknya tidak diujikan pada hewan atau biasa disebut animal testing. Secara resmi, simbol cruelty-free di produk kecantikan dilambangkan dengan seekor kelinci. Istilah ini dibuat pada 1996 karena animal testing secara kejam marak dilakukan dalam kurun waktu 58 tahun.
Sebagian orang mungkin menganggap uji produk pada hewan hanya sebatas mengoleskan sampel ke kulit mereka. Misal, mengoleskan blush-on pada wajah hewan atau mengoleskan pelembap pada tubuhnya. Sayangnya, uji pada hewan tidak berjalan sesederhana itu. Prosesnya jauh lebih kejam, Netizoo.
Mari kita bahas animal testing lebih dalam! Animal testing memiliki sejumlah istilah lain, yaitu animal experimentation, animal research, in vivo testing, dan vivisection. Dalam bahasa Indonesia, biasanya disebut uji praklinis.
Animal testing tidak hanya dilakukan untuk produk kosmetik, tetapi juga produk makanan dan kesehatan. Melalui percobaan ini, peneliti dapat memastikan kandungan yang digunakan tidak memiliki efek buruk pada jaringan tubuh manusia, mengetahui sensitivitas kandungan terhadap matahari, mengetahui potensi iritasi terhadap kulit dan mata, mengetahui tingkat komedogenisitas yang berkaitan dengan pertumbuhan jerawat, dan memastikan hasil akhir produknya.
Hewan yang biasa digunakan adalah hewan pengerat, seperti kelinci, marmot, dan tikus. Terdapat juga pengujian pada anjing dan hewan primata. Pengujian sampel dilakukan pada hewan terlebih dahulu untuk mengurangi kerugian yang mungkin diterima manusia. Dengan kata lain, hewan-hewan ini menggantikan kita untuk merasakan sakit dari kegagalan produknya. Kasihan banget, ya! ):
Lokasi pengujian sampel pada bagian tubuh hewan dapat berubah-ubah, tergantung jenis dan tujuan produk. Bila bertujuan menguji iritasi pada mata, peneliti akan mengujikan produknya pada mata si hewan. Peneliti juga sering menggunakan hewan sebagai lokasi penyuntikan sampel.
Apakah ilmuwan tidak peduli pada hewan yang diujinya? Menurut Watson, penulis buku “Animal Testing: Issues and Ethics,” sebagian ilmuwan peduli pada hewan yang diujinya. Mereka berusaha meminimalisasi penggunaan hewan dan berempati. Ilmuwan juga tidak lupa menggunakan anestesi atau obat pengurang rasa sakit untuk hewan. Namun, tak jarang hewan yang dijadikan uji praklinis justru dibunuh untuk menghindari kontak dengan hewan lain. Cukup berlawanan dengan pernyataan Watson, ya.
Video unggahan dari People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) yang berjudul “Animal Testing in 60 Seconds” jelas lebih menunjukkan sisi ilmuwan yang kejam. Banyak hewan terkurung di kandang dalam keadaan luka dan linglung, penarikan paksa, pemborgolan hewan di meja uji agar tidak kabur, penyuntikan di mata, bahkan ada yang terlihat mengalami kelumpuhan.
Hingga 2021, sebanyak 88% dari 50 perusahaan kosmetik terbesar di dunia masih melakukan pengujian pada hewan. Artinya, hanya 6 dari 50 perusahaan yang tercatat cruelty free, yaitu Garnier, Tresemme, The Body Shop, Dove, Herbal Essences, dan Sunsilk.
Bayangkan, Netizoo. Jika 44 dari 50 perusahaan kosmetik terbesar di dunia melakukan uji pada hewan selama bertahun-tahun, berapa banyak hewan yang mati dalam penderitaan? Setiap hewan mampu merasakan sakit, sama seperti manusia. Mereka pantas dan berhak untuk hidup bebas layaknya manusia.
Apa, sih, yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka? Netizoo dapat memulainya dari hal-hal yang dasar, nih. Misalnya mengganti seluruh produk kecantikan yang dimiliki (makeup, skin care, body care, dan hair care) dengan produk yang berlabel cruelty-free. Selain produk cruelty-free, Netizoo juga bisa menggunakan produk yang berlabel vegan, lho.
Yes, if you guys don’t know, istilah vegan dan cruelty free memiliki pengertian yang berbeda! Jika cruelty-free adalah suatu produk yang dibuat tanpa melibatkan animal testing, vegan adalah suatu produk yang bebas dari bahan turunan hewan, misalnya ekstrak madu yang berasal dari lebah.
Perlu diketahui, produk yang cruelty-free belum tentu vegan, begitu pun sebaliknya. Produk yang cruelty-free bisa saja tetap mengandung bahan turunan hewan, sedangkan produk yang vegan bisa saja tetap melalui animal testing. Dasarnya, jika produk yang berlabel cruelty-free masih mengandung bahan turunan hewan, ia tidak dapat dianggap cruelty-free secara penuh karena masih memperoleh bahan turunan hewan yang melibatkan tindakan tertentu terhadap hewan. Maka dari itu, Netizoo harus lebih cermat dan teliti dalam memilih brand yang mengklaim produknya cruelty-free dan vegan.
Ingin tahu brand apa saja yang tercatat cruelty-free atau vegan? Klik di sini!
Sources:
Humanesociety.org, leapingbunny.org, peta.org, crueltyfreekitty.com
Muliyawan, D., & Suriana, N. (2013). A - z tentang kosmetik. PT Elex Media Komputindo.
Watson, S. (2009). Animal testing: Issues and ethics. The Rosen Publishing Group.

Comments