Hewan Bukan Badut dalam Kandang
- Thefanny
- Jun 1, 2022
- 3 min read
Siapa di antara Netizoo yang pernah berwisata dengan teman-teman sekolah ke kebun binatang? Atau mungkin playdate dengan teman, saudara, atau pacar ke akuarium? Pasti menjadi salah satu pengalaman tidak terlupakan, ya. Namun, teman-teman satwa di kebun binatang dan akuarium tidak bisa mengatakan hal yang sama.
Sebagian–atau mungkin seluruh–hidup mereka dilewati dengan hal yang sama, menjadi tontonan dan bahan candaan pengunjung setiap harinya. Mungkin, pengalaman tak terlupakan yang mereka miliki adalah hari saat mereka tertangkap atau hari pertama menempati kandang sempit yang akan menjadi “rumah” selama sisa hidupnya.
Nyatanya, ruang gerak yang terbatas, diiringi dengan ratusan mata, puluhan ketukan di jeruji kandang atau kaca, keributan dari pengunjung, bahkan cahaya flash kamera dapat membuat hewan-hewan stres. Mereka dipaksa untuk berurusan dengan itu semua karena tidak ada tempat lain untuk kabur. Lagian, mereka bisa kabur ke mana di kandang yang kecil itu?
Tidak hanya stres, hewan-hewan di kebun binatang dan akuarium juga biasanya dipaksa untuk memiliki atau mengembangkan perilaku yang tidak seharusnya mereka miliki. Seperti atraksi anjing laut yang bermain bola, beruang yang mengendarai sepeda roda tiga, berfoto bersama pengunjung, dan lain-lain.
“Tapi, kan, mereka dikasih makan…, enggak perlu susah-susah cari makan lagi.”
Yup, makanan teman-teman satwa di kebun binatang dan akuarium memang sudah disediakan. Namun, apa Netizoo tahu kalau hal ini justru memudarkan insting mereka dalam mencari dan berburu makan sendiri? Apalagi untuk teman-teman satwa yang lahir dan dibesarkan dalam kandang. Akhirnya, teman-teman satwa menjadi seperti Alex si singa dari film “Madagascar” yang kelaparan karena tidak bisa berburu. Selain itu, siapa yang bisa menjamin mereka diberikan makanan yang cukup?
Menahan dan memperlakukan hewan seperti ini dinilai sebagai animal abuse atau kekerasan terhadap hewan. Jelas saja, enggak hanya ruang geraknya yang dibatasi, mereka juga dipaksa untuk mengubah perilaku dan puas dengan makanan secukupnya yang diberikan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka juga dipaksa untuk berkembang biak.
Pada 1979, Dewan Kesejahteraan Hewan Peternakan Inggris (UK Farm Animal Welfare Council) mengeluarkan prinsip “Five Freedoms” untuk teman-teman satwa yang akan “dikandangkan”. Kelima prinsip itu adalah kebebasan dari rasa lapar, haus, dan malnutrisi; kebebasan dari rasa takut dan stres; kebebasan dari rasa tidak nyaman; kebebasan dari rasa sakit, luka, dan penyakit; serta kebebasan untuk berperilaku natural.
Jika dikaitkan dengan perilaku yang diterima teman-teman satwa di kebun binatang dan akuarium, kedua tempat ini sudah melanggar setidaknya tiga prinsip Five Freedoms. Artinya, kebun binatang dan akuarium sudah 60% tidak layak dalam menahan teman-teman hewan. Belum lagi jika kedua tempat ini tidak memberikan makan yang cukup atau memperlakukan hewannya dengan kasar. Kalau hal itu terjadi, mereka semakin tidak berhak mengurung teman-teman satwa.
Meski begitu, kedua tempat ini masih memiliki efek positif. Kebun binatang dan akuarium dapat menjadi sarana pembelajaran dari jarak dekat. Spesies yang terancam punah juga memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan keturunannya. Biasanya, spesies hewan bisa terancam punah karena predator, sulitnya mencari makan, habitat yang rusak, dan juga diburu manusia.
Tentu saja ada cara lainnya yang dapat dilakukan untuk belajar dan mencegah kepunahan ya, Netizoo. Sebenarnya terdapat tiga jenis “kandang” untuk teman-teman satwa, kebun binatang, safari, dan cagar alam.
Kebun binatang adalah tempat hewan yang dikurung di kandang kecil agar orang-orang dapat melihat dan mempelajarinya. Safari adalah tempat hewan dengan kandang dan ruang gerak yang lebih besar–seperti taman–dan orang-orang bisa melihatnya dengan berkendara dengan mobil. Sedangkan cagar alam adalah area alam yang luas dan natural dengan guna melindungi hewan dan tumbuhan dari predator serta kondisi berbahaya, manusia hanya memantau, menjaga, dan membantu melestarikan mereka.
Jadi, kebun binatang enggak bisa bilang kalau mereka menahan hewan dengan niat untuk menjauhkan mereka dari kepunahan ya, Netizoo. Masih ada cara lain yang lebih menguntungkan untuk teman-teman satwa yang terancam punah daripada mengurungnya di kandang kebun binatang atau akuarium.
Nah, setelah melewati pandemi Covid-19 dan dibatasi ruang geraknya, Netizoo sudah tahu rasanya “dikurung” di rumah, kan? Sudah tahu apa yang dirasakan oleh teman-teman satwa di kebun binatang dan akuarium, dong?
Source:
Greenecofriend.co.uk, Nationalgeographic.co.uk, theguardian.com, Mäekivi, N. (2018). Freedom in captivity: Managing zoo animals according to the ‘Five Freedoms.’ Biosemiotics, 11(1), 7–25. https://doi.org/10.1007/s12304-018-9311-5

Comments