top of page
Search

Tren Fashion Bulu & Kulit Hewan Enggak Keren!

Chanel, Prada, H&M, Michael Kors, Gucci, dan Armani.


Mereka bukan sekadar fashion brands biasa, melainkan sejumlah fashion brands yang berpartisipasi dalam fur free movement menurut laporan FOUR PAWS, sebuah organisasi global yang menguak penderitaan dan menyelamatkan hewan melalui berbagai kampanye agar manusia memperlakukan hewan dengan hormat, empati, dan pengertian.


Apa, sih, fur free movement itu?


Well, fur free movement adalah gerakan yang mendukung produksi busana tanpa penggunaan bulu hewan. Untuk berpartisipasi dalam gerakan ini, berbagai fashion brands menetapkan fur free policy atau kebijakan untuk lepas dari penggunaan bulu hewan dalam proses produksinya untuk menentang kekerasan dan kekejaman terhadap hewan.


Humane Society International sebagai organisasi pembelaan hak hewan menyatakan setidaknya 100 juta hewan mati untuk dijadikan sebagai pakaian dan aksesori. Pernah, enggak, Netizoo memikirkan bagaimana cara fashion brand memperoleh bulu dan kulit hewan yang akan digunakan untuk produknya? Apakah hanya menggunakan hewan yang sudah mati?


Nyatanya, hewan-hewan yang digunakan untuk produksi tas, pakaian, hingga sepatu itu berasal dari peternakan yang dikelola dengan tujuan untuk mengambil kulit dan bulunya tanpa mempertimbangkan hidup si hewan, lho! PETA memberikan gambaran yang jelas melalui videonya yang berjudul “Do You Know What Happens to Crocodiles for Celebs’ Exotic Bags?”. Melalui video tersebut, PETA menunjukkan banyak buaya dikumpulkan dalam suatu peternakan agar dapat berkembang biak. Umumnya, buaya berukuran sedang dapat bertahan hidup hingga 40 tahun, sedangkan yang berukuran besar sampai 70 tahun. Namun, di peternakan itu, setiap buaya "diambil" ketika umur 3 tahun untuk dikuliti hidup-hidup. Buaya dapat mempertahankan kesadarannya selama satu jam sehingga mereka dapat merasakan penyiksaan yang dilakukan manusia. Tega banget, gak, sih?


Selain buaya, ada juga cerpelai (mink). Setidaknya 6,9 juta bulu mink terjual di Kopenhagen Fur Sale Denmark pada 2015. Penggunaan bulu rubah juga cukup tinggi dalam dunia busana. Berdasarkan data Respect For Animals, penggunaannya mencapai 3,7 juta ekor.


Mungkin Netizoo bertanya-tanya, sebenarnya mengapa, sih, fashion brand ternama cenderung menggunakan bulu dan kulit asli untuk produknya? Sejarahnya, manusia purba selalu menggunakan kulit hewan untuk menghangatkan diri pada musim dingin. Kulit hewan dianggap memberikan kehangatan yang tinggi daripada material lainnya. Terlebih, pada masa modern, busana yang menggunakan bulu dan kulit asli hewan dianggap sebagai simbol kekayaan untuk kaum menengah ke atas sehingga sejumlah brands masih menggunakannya untuk memperoleh keuntungan besar. Akhirnya, hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kepunahan spesies tertentu.


Oleh karena itu, fur free movement menjadi langkah yang positif untuk keselamatan hewan. Perlahan, sejumlah brands beralih ke faux fur atau serat sintetis yang menyerupai bulu asli untuk mengurangi kekerasan terhadap hewan. Namun, perlu diketahui bahwa fur free policy, sesuai namanya, hanya menghentikan penggunaan bulu, tidak termasuk kulit hewan (seperti reptil atau sapi). Kebijakan dalam dunia fashion ini masih harus dikembangkan agar dapat merangkul seluruh spesies.


Meski ratusan fashion brands tercatat berpartisipasi dalam fur free movement atau menetapkan free fur policy, penelitian dari FOUR PAWS menunjukkan hanya 35% brand yang mempertimbangkan kesejahteraan hewan sampai tingkat tertentu, 25% brand yang memiliki kebijakan resmi terkait kesejahteraan hewan, 21% brand yang menjamin kesejahteraan hewan dengan mengecek dan mengecualikan material yang berasal dari hewan, serta 9% brand yang memenuhi kriteria dan prinsip kesejahteraan hewan yang ditetapkan FOUR PAWS.


Artinya, terdapat 65% fashion brand yang belum memperhatikan kesejahteraan hewan dan menetap pada kebiasaan lama, menggunakan bulu dan kulit hewan untuk produksinya. Hal ini dapat terjadi bila demand atau permintaan terhadap produk tersebut masih tinggi. Konsumen juga perlu membuka mata dan menghentikan penggunaan produk dengan bulu atau kulit hewan asli sehingga memberi dampak positif terhadap lingkungan sekitar.


Sebagai konsumen, Netizoo dapat memilih produk yang terbukti menggunakan faux fur dan leather atau memiliki label vegan karena produk berlabel vegan menggunakan bahan sintetis yang tidak diperoleh dari hewan sedikit pun.


Penasaran apakah brand favoritmu termasuk dalam fur free fashion? Netizoo bisa cek link berikut ini! https://www.humanesociety.org/fur-free-fashion



Sources:

Peta.org, respectforanimals.org, fourpaws.org, hsi.org

Ramadhan, B., & Widiati, D. (n.d). Eksplorasi serat ramie dengan efek animal fur pada produk fashion. Jurnal Tingkat Sarjana Senirupa dan Desain, (1), 1-2.


Recent Posts

See All
Hewan Bukan Badut dalam Kandang

Siapa di antara Netizoo yang pernah berwisata dengan teman-teman sekolah ke kebun binatang? Atau mungkin playdate dengan teman, saudara,...

 
 
 

Comments


bottom of page